MATERI MATRIKULASI
2. Kajian Islam dari Perspektif Hukum: Perkembangan Paradigma, Teori, dan Pendekatan >Martius
3. Kajian Islam dari Perspective Ilmu Tafsir-Hadits: Perkembangan Paradigma, Teori, dan Pendekatan >Lulu
4. Kajian Islam dari Perspective Teologi & Tasawuf: Perkembangan Paradigma, Teori, dan Pendekatan >Azmul
5. Kajian Islam dari Perspective Ilmu Kedokteran & Kesehatan: Perkembangan Paradigma, Teori, dan Pendekatan > Hera dan Nina
6. Isu-Isu Islam dan Kesehatan Kontemporer: Pendekatan Multidisipin, Interdsisplin, dan Transdisiplin >Fajar
7. Desain Penelitian Integratif Islam dan Kesehatan: Paradigma, Metodologi, dan Pendekatan >Heri
8. Kajian Islam dari Perspective Teknologi: Perkembangan Paradigma, Teori, dan Pendekatan >Rindha dan Wildan
9. Isu-Isu Islam dan Teknologi Kontemporer: Pendekatan Multidisipin, Interdsisplin, dan Transdisiplin >Sutrisno dan Dania
10. Desain Penelitian Integratif Islam dan Teknologi: Paradigma, Metodologi, dan Pendekatan >Yelinda
11. Kajian Islam dari Perspektif Pendidikan: Perkembangan Paradigma, Teori, dan Pendekatan >Nirma
12. Isu-Isu Islam dan Pendidikan Kontemporer: Pendekatan Multidisipin, Interdsisplin, dan Transdisiplin >Sumarno
13. Desain Penelitian Integratif Islam dan Pendidikan: Paradigma, Metodologi, dan Pendekatan >Vetha Lidya
14. Kajian Islam dari Perspektif Ekonomi: Perkembangan Paradigma, Teori, dan Pendekatan >Agus
15. Isu-Isu Islam dan Ekonomi Kontemporer: Pendekatan Multidisipin, Interdsisplin, dan Transdisiplin >Agustin
16. Desain Penelitian Integratif Islam dan Ekonomi: Paradigma, Metodologi, dan Pendekatan > Afif
Bin Bayyah tentang Bentuk Pemerintahan dalan Konteks Muwathanah Kontemporer
كلمتنا هنا لا تناقش الألفاظ والألقاب من خليفة أو إمام أو ولي أمر أو أمير، باعتبار هذه الألفاظ وإن كانت وردت في السنة فإنها وردت في سياق مدلولاتها اللغوية لا التعبدية. لكن الذي يهمنا هو مغزى ذلك كله، وما يدور حوله، والمقصود الأعلى منه أي: انتظام شأن الناس والمحافظة على مصالحهم. وإن ذلك لا يمكن ولا ينبغي أن يختلف فيه، وإنما يكون بسلطة حاكمة تتصرف في شؤون الناس بالأمر والنهي، وهذه ضرورة طبيعية لكل مجتمع من قرية صغيرة إلى مجتمع كبير. وكل ما يتعلق بشكل تلك السلطة وصلاحياتها، مم تتركب، وهل تورث أم تنتخب، يمكن أن نؤكد أنه لا يوجد إلزام لا يتزحزح بشكل معين إلا بقدر ما يحقق من المصلحة أو ما يدرأ من المفسدة، ويتلاءم مع أعراف وأحوال الناس، ويوفر السلام ويحفظ النظام، ويكون أقرب إلى روح الشرع في الأحكام.
Artinya: Kami menyampaikan bahwa pembahasan kami tidak berfokus pada istilah seperti khalifah, imam, atau wali al-amr, karena meskipun terdapat dalam Sunnah, istilah-istilah tersebut lebih bersifat linguistik daripada normatif-teologis. Yang menjadi pokok perhatian adalah esensi kepemimpinan sebagai sarana menjaga keteraturan dan kemaslahatan masyarakat. Keberadaan otoritas pengatur merupakan kebutuhan dasar setiap komunitas. Adapun bentuk, mekanisme, dan struktur kekuasaan tidak bersifat absolut, selama mampu menghadirkan kemaslahatan, mencegah kerusakan, sejalan dengan kondisi sosial, serta mencerminkan semangat syariat.
(Abdallah bin Bayyah, “al-Daulah al-Waṭaniyyah fī al-Mujtamaʿāt al-Muslimah,” binbayyah.net ,diakses 12 Juli 2025, https://binbayyah.net/arabic/archives/3772.)
Syekh Bin Bayyah ttg Bentuk Negara
إنَّ الدولةَ في الإسلام هي آلة من آليات العدل وإقامة الدين، وليست دولةً تيوكراسية بل مدنيةً بمعنى من المعاني، لكنها بالتأكيد ليست دولةً علمانية، إنها دولة يكون للدين فيها مكانُه ومكانتُه في مزاوجة مع المصالح واتساع من التأويل لا يقوم عليها رجال دين، ولكنْ رجالٌ مدنيون بمختلف الطرق التي يصل بها الحكام إلى الحكم، قد تكون بعض الطرق مفضلة بقدر ما تحقق من المصلحة والسِّلم الاجتماعي والاقتراب من روح الشرع ونصوصه.
Artinya: Negara dalam Islam dipahami sebagai instrumen untuk menegakkan keadilan dan melaksanakan agama. Ia bukanlah negara teokratis, melainkan negara sipil dalam pengertian tertentu, namun jelas bukan pula negara sekuler. Negara dalam Islam menempatkan agama pada posisi yang terhormat, dengan menyeimbangkan antara kepentingan agama dan kemaslahatan umum, melalui keluasan ruang tafsir yang tersedia. Negara tersebut tidak dijalankan oleh kelas “ulama” sebagai otoritas keagamaan semata, melainkan oleh aktor-aktor sipil melalui berbagai mekanisme yang memungkinkan penguasa memperoleh legitimasi kekuasaan. Adapun sebagian mekanisme tertentu dapat lebih diutamakan sepanjang mampu mewujudkan kemaslahatan, menjaga harmoni sosial, serta mendekatkan praktik politik pada semangat dan teks-teks syariat.
(Bayyah, “al-Daulah al-Waṭaniyyah fī al-Mujtamaʿāt al-Muslimah,” binbayyah.net ,diakses 07 Mei 2025, https://binbayyah.net/arabic/archives/3772.)
Bin Bayyah tentang Kemaslahatan Kemanusiaan
...بأن الدين ترك مساحة واسعة للعقل فيما يتعلق بتدبير شؤون الناس ومصالحهم...
Artinya: Agama memberikan ruang yang luas bagi akal untuk berperan dalam mengatur urusan masyarakat dan mewujudkan kemaslahatan mereka.
(Bayyah, “al-Daulah al-Waṭaniyyah fī al-Mujtamaʿāt al-Muslimah,” binbayyah.net ,diakses 07 Mei 2025, https://binbayyah.net/arabic/archives/3772.)